Pages

Wednesday, 17 September 2014

Indonesia & Demographic Bonus


Did you know? 

Nowadays, in Indonesia, there are more than 65 million young people, defined as those between 10-24 years of age. It representing about 28% of the population. For the next 15 years or so, they will constitute the main driver of economic growth and social change in Indonesia. Like many other countries, Indonesia has a high proportion of young people and the government should plan to take advantage of the resultant 'demographic bonus' to achieve development goals. Young people has a potential to change the composition of the country.



What can (YOU)th do to support the Bonus Demographic processes?
Let's prepare yourself.


Cheers! :)

Bandung, 17 September 2014


Hello Again (Part 2)



Here we go again. 

This is a second post about myself. Ok, I am not trying to become a narcissist (really :p). I need to publish this post as a one of the assignments before I participate in Australia-Indonesia Youth Exchange Program 2014-2015, next month.

So, enjoy!


This post is related to my previous post--> http://bit.ly/1ARLs57 Feel free to read it.

Cheers! :)

Bandung, 17 September 2014

Sunday, 7 September 2014

Hello Again!

video


Yes. Hello again dear My Blog! It has been a year since my last posting. Honestly, it is quite tough to answer the question “who are you?” But well, I am going to make it straight and short.

Lasmi Teja Raspati. That’s my surname that given by my parents when I was born on March 13th, 25 years ago in Bandung, West Java. Exactly, I am originally from Bandung, my lovely hometown where I belong to. Ohyah, please called me Achie J

I have graduated as a Bachelor of Communication Science, majoring Journalism Studies, from Padjadjaran University in 2012. My passion in journalism and media have been starting since I was in Junior High school, when I became an Editor in Chief in my school magazine.

Currently, I work in Mahana Live, a music promoter company which developed by young people from Bandung. I have been working part time for Mahana Live since 2012 as Media Relations (2012-2013) and Head of Show Management & Creative (2013-present). When I was in Media Relations Division, I used to engage with mass media (radio, TV, online, printed media) and maintain relationship & partnership with them; write a press release, held press conference, weekly media monitoring, etc. As a Show Management & Creative, I used to create and develop event concept, create event rundown, brief the talents, and run the show.

In my spare time, I like watching movie, writing, cooking, volunteering, exploring new places and vintage spots, do some outdoor activities, and traveling. I interest in vintage stuff, drama & classical movies, art-music-cultural performance (theatre, concert, etc.), and local communities.

Five words that could describe myself and also become my strenght; 1) Curious, I am a curiouser like Alice (in the Wonderland) said haha, 2) Creative: I like to create concept, share thoughts and ideas, I like brainstorming with colleagues; 3) Hard Worker: I like to challenge myself to get a good result, and sometime a bit perfectionist, 4) Well organized: I am a kind of person who like create To-Do-List to start my day, I like to manage something, 5) Passionate: I like to do my job passionately, and eager to learn something new.       

Okay, now about my future goal, as a future leader, I plan to develop national media strategies in the field of media and communication studies, particularly in media research. This programme will mean a lot for my professional future career. In the end, I want to build my own media company.

I am eager to learn new things from others. I have a demonstrated ability to work collegially with people from different culture and background. It is a position where my interpersonal and organizational skill could be put to very productive. Moreover, the experience I gained while I worked in one of United Nations agency in Indonesia, United NationsPopulation Fund (UNFPA) as a Social Media Assistant, has nurtured my aspirations for a new point of view regarding the role of media in sustainable development issues. It is my aim to focus my career in this subjects, it is my personal mission that media has an important role to motivate sustainable development in my country, Indonesia.

Anyway, I will be very happy to share my experience with other delegations from Indonesia during our program, Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP), for the next 5 months through this blog. I think that’s all from me, I have last statement which also my motto in life: keep your eyes on the stars, and your feet on the ground. 


See you on the next page!

Cheers! :)

Thursday, 18 April 2013

Sinergi Dua Generasi, Dari Masalah Jadi Berkah


Lagi-lagi Belanda membuktikan kekuatan yang telah mereka yakini sejak ratusan tahun: mengubah masalah menjadi berkah. Baru-baru ini lahir lagi satu terobosan dari negeri Van Oranje. Bukan dari bidang teknologi, pendidikan, atau arsitektur yang seringkali menjadi pembahasan mengenai prestasi negeri tersebut. Bukan pula tentang budaya bersepedanya yang mengakar. Ya, kali ini kabar datang dari dunia fashion!

Logo Grannys Finest, "designed by the new, 
produced by the best"
Berdasarkan website GrannysFinest, sebanyak 2,6 juta penduduk Belanda di atas 65 tahun dilaporkan mengalami kesepian. Jauh dari kata ‘masalah’, kondisi ini justru membuka sudut pandang seorang entrepreneur muda, Niek van Hengel, untuk mengubahnya menjadi terobosan.

Sudah menjadi budaya bangsa Belanda, bahwa setiap individunya dianugerahi jiwa pelopor, sehingga ide-ide kreatif dan inovatif pun tumbuh dengan subur.  

“Kami harus mampu menurunkan angka tersebut,” ungkap Niek, dikutip dari The Genteel

Niek van Hengel (kanan) dan  Jip Pulles, partnernya 
dalam menjalankan Grannys Finest
Ada yang pernah mendengar Grannys Finest? Grannys Finest merupakan senior citizen empowerment yang digagas Niek dalam mengolaborasikan fashion dengan gerakan sosial. Di Rotterdam, setiap minggunya puluhan nenek berkumpul untuk merajut. Apa yang mereka rajut bukan sembarang scarf ataupun sweater, melainkan produk high-fashion karya sejumlah desainer muda Belanda.  Dua generasi ini dipertemukan berkat ide yang muncul ketika Niek mengunjungi kakeknya di sebuah panti lansia di sudut kota Rotterdam.

Ketika itu Niek melihat seorang nenek sedang asik merajut. Bukan untuk siapa-siapa, “hanya untuk bersenang-senang,” katanya. Ide untuk bersinergi pun terlintas. Ibarat  gayung bersambut, gagasan Niek diterima gembira oleh para nenek, dan voila…lahirlah Grannys Finest yang kini menjadi nama yayasan sekaligus label untuk produk mereka. Betul, produk ini tak hanya fashionable, tetapi juga dibuat dengan penuh cinta seorang nenek, the power of handmade.   


Rajutan karya grannys diperagakan model, tampak fashionable dan edgy

Menurut Niek, terobosan ini menjadi solusi bagi kedua generasi. Para desainer muda mendapatkan ruang dan eksposur untuk melahirkan karya, sementara para nenek bisa mendapatkan jaringan sosial yang sangat membahagikan bagi mereka. Selain itu, mereka pun mengaku mendapat kepuasan ketika melihat rajutan mereka digunakan, bahkan diperagakan model di sejumlah pagelaran fashion. Tetap produktif di usia lanjut, siapa yang tidak senang? 

Kolaborasi dua generasi: granny termuda
 berusia 62 tahun, dan granny tertua berusia 92 tahun
“Para nenek paham mengenai teknik dan keterampilan merajut, sementara desainer muda paham dengan mode yang sedang jadi tren. Maka, kami saling mengisi,” kata Niek.

Hingga saat ini terdapat tiga desainer muda yang menyumbangkan desainnya untuk kemudian ditindaklanjuti ‘tangan-tangan terampil’ sang nenek. Mereka antara lain, Laurie Collee, Channa Ernstsen, dan Rosanne van Der Meer.

Sociopreneurship
Uniknya, tak hanya fashion yang ditawarkan project ini, tetapi juga memelopori sebuah gerakan sosial. Untuk itu Niek mengategorikan usahanya ini sebagai sociopreneurship, yakni kewirausahaan berbasis sosial yang dapat menggerakan masyarakat agar berdaya saing global.
 
Para nenek yang  tetap berkarya dan produktif

“Usaha fashion ini harus mampu mengatasi masalah sosial. Dan uang bukanlah satu-satunya hal yang bisa diberikan untuk menghargai mereka,” tegas Niek. Kelompok lanjut usia di Belanda pada umunnya relatif berkecupan, bahkan di antaranya berada di kelompok ekonomi menengah ke atas. 

Meski usia Grannys Finest masih seumur jagung, namun niat Niek untuk melebarkan sayap sudah tertanam sejak awal. Dia ingin menghapuskan kesepian di kalangan lanjut usia, tak hanya di Belanda tapi juga di negara lainnya.

Belajar dari Niek dan Belanda, lantas apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia? Yuk, kita jawab bersama! :)

***


Referensi:
http://www.grannysfinest.com/
http://www.thegenteel.com/articles/society/grannys-finest-knitwear
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/video/nenek-belanda-membuat-produk-high-fashion

Thursday, 29 November 2012

021-1

Hi there!

Long time no-post ya. Maafkan, bukan lupa diri, tepatnya lupa waktu :p

It's been a half 3 months after moving out from my comfort zone. proses yang patut diapresiasi, paling tidak oleh diri saya sendiri :)

what happened with my life in a past 3 months?

Baiklah, ini memang bukan cerita yang singkat. Bahkan, saat ini pun saya bukan hendak berbagi cerita. Lama gak nge-post rasanya seperti punya hutang yang begitu menumpuk. Merasa berdosa sama diri sendiri (yang pada awalnya) berkomitmen untuk memproduksi (at least) satu posting-an dalam satu minggu. Berhubung niat awal saya ngeblog memang bukan untuk orang lain, tapi untuk diri saya sendiri, jadi saya gak merasa berdosa sama pembaca/pelanggan/visitors blog saya (emangnya ada ya?) hahaha :p

Singkat cerita, Agustus lalu, saya memutuskan untuk nekat pergi ke ibukota. Bukan untuk jadi wartawan atau editor (seperti posisi saya terdahulu), tapi untuk mencicipi pengalaman lain yang saya yakini tidak kalah menarik dari yang sudah-sudah. Ini suatu langkah baru buat saya, memutuskan untuk meninggalkan kota Bandung (yang bikin saya ketergantungan dan keenakan) bukanlah hal yang mudah.

Apa sih yang gak ada di Bandung? Tanya seorang teman waktu tahu keputusan saya.

Geli rasanya kalau saya sadar kepindahan saya ini probably gak akan memakan waktu yang lama. Tahukah, hanya 4 bulan saja! Tapi, ketika kamu mencoba keluar dari suatu tempat yang kamu anggap rumah untuk suatu tujuan yang kamu harap akan berkelanjutan, maka mulai saat itulah kepulanganmu "ke rumah" tidak akan sama lagi. Haha kalimat yang membingungkan, mungkin begini maksudnya. Setelah saya pindah ke ibukota, secara harfiah saya jadi sulit menempatkan kata "pulang" dan "rumah". Tapi, secara derivatif/turunan, saya jadi makin paham makna "pulang" dan "rumah".

Beruntungnya, 3 bulan keluyuran bukan berarti saya gak ngapa-ngapain, dan gak bawa apa-apa. Ada sedikit oleh-oleh yang saya rangkum melalui lensa kecil...


Senangnya dapet ID ini, sekalipun 'hanya' berstatus intern :p

i have my own cubicle :D
                                    

view outside my cubicle @ 9th floor Thamrin Tower Jakpus
                             

in the middle of "another-concrete-jungle"


me and my partner in crime, Fahmi Ramadhan


me and my best friend + co-worker, Angga Dwi Martha @Kupang


 saat transit di Denpasar, menuju Kupang


my very first time landing in Kupang!


eksotisnya Kupang


saya dan Costan, aktivis pemuda asli Kupang @Lasiana Beach NTT


menengok proses pembuatan kain tenun khas Kupang yang mendunia


Ini dia sumber kebanggaan masyarakat Kupang, pohon lontar! 

Sebetulnya masih ada lagi beberapa oleh-oleh kecil dari perjalanan saya selama 3 bulan ke belakang. Well, berhubung hari ini udah 1 hari menuju keberangkatan ke Bali dan 3 hari menuju D-Day (which i've been working for in this past 3 months--Global Youth Forum in Bali 4-6 December 2012) jadi saya harus kembali kerjaaaaa! Satu simpulan, saya sebut perjalanan baru ini sebagai "lelah yang menyenangkan".

I'll keep you updated for another story of "lelah yang menyenangkan"! :D


Friday, 24 August 2012

desk

H+4 Lebaran means "jobless" for me. let see around!

mejanya berdaki, 
meski pun udah digosok tetep aja berdaki :(

males bikin phonebook, ketauan joroknya :p

post it everywhereee 

when tea met nationalism

mabok eyd, sayang KBBI nya gak dibawa

celengan merangkap pembatas buku dadakan

telpon ini berfungsi buat verifikasi berita ke daerah,
kadang juga jadi operator dan dibentak-bentak bule

view di sebelah kiri meja
kalo siang silau, kalo hujan romatis

view di belakang meja, guess what? 
my boss office! *jackpot bgt*

that's all. happy weekend all :D

CHEERS!

Tuesday, 24 July 2012

#5 Makanan Kesukaan versi saya! :)

nah, minggu ini temanya rada-rada susah: makanan yang kamu suka/gak suka.
iya, susah. soalnya semua makanan saya suka. dan saya cuma punya satu pantangan: seafood. itu pun gak semua jenis seafood. jadi buat edisi minggu ini, saya bakal share ttg empat makanan favorit dan satu jenis makanan (yg sebenernya saya suka tapi...) yang harus saya hindarin. meski pun lagi puasa, gak apa-apalah ya kita cerita sedikit soal makanan hahaha. ini nih..